Prolog

Kukatakan padanya bahwa aku sangat membencinya meski hal itu bertolak belakang dengan kata hatiku. Aku tidak mengerti kenapa aku mengatakannya. Aku hanya ingin dia menganggapku. Selama dua tahun ini, aku selalu merasa hanya aku yang menyukainya. Aku tidak pernah menyesal mengenai itu, hanya saja, aku juga ingin dicintai, aku juga ingin dia melihatku seperti aku melihatnya.

Gomen ne[1], Akira-chan…[2]” katanya lirih. Senyum penyesalan terbentuk di bibirnya yang tipis. “Kalau kau lelah, sebaiknya kita sudahi saja, maaf kalau sikapku membuatmu lelah”

Dia tidak marah !! Demi Tuhan dia tidak marah !!! Aku mengatakan aku membencinya dan dia malah menjawab seperti itu??? Disudahi saja??? Baiklah, kita sudahi saja semua ini !!!

Aku memalingkan wajahku ke arah jendela. Kini pipiku basah karena air mata. Laki-laki itu bangkit dari duduknya. Mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan meletakannya di meja.

“Semoga kau bahagia, Akira-chan. Terimakasih sudah menyukaiku selama ini. Dan juga….selamat ulang tahun. Aku pergi”

Laki-laki itu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Dari pantulan kaca jendela aku melihatnya tersenyum sebelum meninggalkanku. Senyum yang akan selalu teringat di setiap mimpiku. Yuki-kun[3].


[1] Maaf..

[2] Panggilan untuk orang yang sudah akrab,

[3] Hampir sama seperti chan, kun umumnya digunakan untuk laki-laki atau wanita tomboy

Aku tersentak bangun. Hanya mimpi. Aku meirik jam di tanganku. Baru jam 11, perjalanan masih lama.

“Sudah bangun?” tanya orang di sampingku. Untuk kedua kalinya aku merasa jantungku seakan mau lepas dari tempatnya.

“Shin???” tanyaku kaget. Tangan Shin menggenggam tanganku. Aku rasa aku belum benar-benar bangun.

“Kamu mimpi buruk? Dari tadi kamu menggumam tidak jelas” kata Shin kemudian. Aku hanya terdiam kebingungan.

“Shun bohong saat dia bilang dia menyukaimu”

“Lalu?” tanyaku setelah aku yakin ini bukan mimpi. Aku sudah bangun.

“Jahat sekali pergi tanpa pamit”

“Maaf”. Hanya itu yang dapat ku katakana.

“Kamu ini, seenaknya memutuskan sendiri. Waktu itu, saat kubilang jangan menunggu lagi, maksudku jangan menunggu lagi Shin yang dulu. Apa salahnya kalau aku tidak bisa seperti yang dulu. Memangnya tidak bisa kalau degan Shin yang sekarang?” aku terdiam tak percaya, “Aku minta maaf karena selalu membuatmu menangis, aku juga minta maaf karena tidak bisa memngingatnya. Meskipun aku tidak sama dengan Shin sebelum tiga tahun yang lalu, tapi aku menyukaimu. Sebagai Shin yang baru aku ingin memulai dari awal” kata Shin panjang lebar.

Shin menghirup nafas dalam-dalam, “Anata ga watashi no koibito ni naritai?” katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari mataku.

Kalian pasti sudah tau apa yang akan kulakukan. Ya, aku mengangguk mengiyakan. Shin tersenyum.

“Jangan cuma mengangguk, katakan sesuatu, aku kan baru saja menembakmu” kata Shin jahil.

Aku menyeka pipiku yang basah. “Aku suka Shin” kataku mantap. Shin tertawa kacil. Manis, sangat manis.

“Kalau kukatakan ‘Aishiteru yo’ tidak akan terjadi apa-apa kan?” tanya Shin setelah tawanya reda. Aku melotot padanya.

“Mau kukatakan ‘Aishiteru yo’ berapa kali?”tanya Shin lagi.

“Katakan sampai aku bosan mendengarnya”. Semburat pink terlihat di pipi Shin. Lalu…

Aishiteru yo… aishiteru yo… aishiteru yo… aishiteru yo… aishiteru yo… aishite..” aku membekap mulut Shin dengan tanganku. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi malu. Shin menatapku dengan ekspresi antara heran dan lucu.

Aku meletakkan kepala Shin dipangkuanku. Darah terus keluar dari kepalanya.

“Shiiin…” kataku serak. Darah Shin tercecer dimana-mana. Di bajuku, di aspal, di tanganku. Shin menjulurkan tangannya, mengusap pipiku. Aku meraihnya.

Aishiteru yo…” katanya pelan. Lalu matanya menutup.

“Shiiin banguuun…” rengekku, “Shiiiin…”

 

Aishiteru yo…

Anata wa dare desu ka?

Anata ga watashi no koibito ni naritai?

Shiawase ne…

Aku duduk di bangku pesawat sambil menatap ke luar jendela. Aku sengaja pergi tanpa pamit, aku tidak ingin goyah lagi. Sepuluh menit lagi take off. Foto Shin tergeletak di pangkuanku. Pipiku basah. Ya, aku menangis, lagi. Berkali-kali aku menghirup nafas dalam-dalam dan berkata pada diri sendiri ‘aku harus merelakannya, aku tidak boleh egois’. Tapi tetap saja air mataku tak berhenti mengalir, seperti ada mata air tersembunyi di balik kelopak mataku.

Aku melirik bangku di sebelahku, masih kosong. Dulu saat Shin tidur sambil menggenggam tanganku, aku terus menatap muka Shin sampai ia bangun. Saat itu aku sangat takjub, Tuhan bisa menciptakan makhluk seindah Shin. Aku mendesah. Bukankah aku sudah menyerah?. Kusandarkan kepalaku ke sandaran kursi lalu memejamkan mata, mencoba tidur. Aku sudah menyerah…aku sudah menyerah…

1 Juni…

Pagi-pagi sekali aku sudah menelfon Shin. Hari ini kuputuskan jadi perjuangan terakhirku. Aku mengajak Shin ke padang rumput di samping bandara tempat aku dan Shin merayakan hari jadi kami yang pertama, dulu. Dari padang itu kami duduk sambil menghitung banyak pesawat yang terbang sepanjang pagi. Aku juga mengajak Shun, tapi Shin bilang Shun tidak mau ikut, kelihatannya moodnya sedang tidak terlalu bagus.

Pukul setengah tujuh pagi kami sudah duduk santai di atas kap mobil sambil minum susu coklat hangat yang sengaja kubawa. Satu pesawat take off membelah udara. Semua kata-kata yang ingin kuucapkan pada Shin seakan tertahan di tenggorokanku. Lidahku kelu.

“Kenapa terus bertahan?” tanya Shin memecah keheningan. Kata-katanya menohokku. Aku tak mampu menjawabnya. Mataku panas.

“Sudah tiga tahun” kata Shin, “Tidak kah kamu bosan mengungguku? Karena jujr saja, sampai saat ini aku belum ingat apapun”

Aku diam saja, seperti ada palu besar yang meremukan hatiku dalam sekali pukul. Aku kena telak.

“Gomen ne..” katanya lagi.

“Jangan meminta maaf, Shin” kataku serak. Aku lah yang salah. Aku lah yang terlalu egois.

Kami terdiam. Air mataku sudah tak bisa dibendung lagi, kubiarkan mengalir membasahi pipiku.

“Apa tidak ada hal alin yang bisa kulakukan selain membuatmu menangis?” tanya Shin kemudian.

Aku tertawa. Memang jika dipikir-pikir aku lebih banyak menangis saat sedang bersama Shin. Shin tersenyum melihatku. Kami kembali terdiam.

“Aku selalu berusaha mengingat tentangmu, tapi semakin mengingatnya aku semakin tidak bisa mengingat. Seperti mencari bola hitam di kegelapan, rasanya sesak sekali”

Aku diam saja mendengarkan, mungkin sekarang giliranku mendengar suara hati Shin.

“Kurasa Shun lebih cocok untukmu. Aku tidak ingin kamu menungguku lagi, aku takut suatu saat aku hanya akan menyakitimu. Shun menyukaimu”

Berakhir sudah. Kata-kata Shin membuat perjuanganku berakhir di sini. Aku menyerah. Aku kalah.

“Shiawase ne…”bisik Shin pelan.

Shin baru selesai mandi saat Shun masuk ke kamarnya.

Nan ka aru?” tanyanya pada Shun. Shun langsung duduk di kasur dan menyalakan TV.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Shun tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.

“Apa?” jawab Shin sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.

“Seberapa besar arti Alegra untukmu, Shin?”

Shin sedikit terkejut, “Memangnya kenapa?

“Andai saja, andai aku menyukainya, kau bagaimana?”

Shin terdiam, melanjutkan memakai kaos. Shun menyukai Ega? Shin tidak tau harus menjawab apa.

“Shin, jawab pertanyaanku”

“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanya Shin balik.

“Itu tidak menjawab pertanyaan” Shun memencet-mencet tombol remot sembarangan. Kelihatan sekali kalau dia sama sekali tidak berniat nonton TV. Kemudian Shun mematikan TV dan berbalik menghadap Shin.

“Shin, apa kau menyukai Ega?” tanya Shun. Shin masih terdiam, “Sudahlah tidak perlu dijawab, aku mau tidur” lanjut Shun kemudian sebelum menghempaskan tubuhnya ke kasur dan memunggungi Shin lagi.

“Ini kamarku, bodoh”

“Aku mau tidur di sini” kata Shun keras kepala.

“Ya sudah aku tidur di kamarmu”

Shin menatap punggung adiknya. Beginilah Shun saat ingin membicarakan hal serius dengannya. Shun akan datang ke kamar Shin, seenaknya tidur di kasurnya dengan badan menghadap jendela memunggungi Shin. Dan sikap seperti ini hanya ditunjukan pada Shin, yang berbagi tempat di rahim ibunya selama hampir 9 bulan. Shin menghela nafas dan menutup pintu.

“Wakarimasen…” kata Shin sebelum pergi. Shin tau, Shun pasti mendengarnya meski kelihatannya dia telah tertidur, pulas.

October

5

kriminal

jahat ih seenaknya nyuri perhatian, bikin orang ga konsen ngerjain ini itu, tau gitu ga jadi pergi aja ge, ketemu kamu malah bikin jadi makin ga konsen…salah q yang terlalu lebai atau kamu yang terlalu menarik perhatian???

Seorang laki-laki tua membungkuk di belakang lensa teleskopnya. Alisnya saling bertaut menandakan ia sedang berpikir.

“Garrvich…si misterius itu muncul lagi” kata si laki-laki tua pada wanita muda di belakangnya.

“Ya Sir, ini kemunculan keduanya sejak kemunculan pertamanya tahun lalu” jawab Garrvich antusias.

“Kau yakin dia bukan bagian dari rasi lain yang mungkin selama ini tidak terlihat dari bumi?” tanya si kakek tua yang kini tengah berjalan bungkuk ke arah meja kerjanya.

“Saya sudah mendiskusikannya dengan Departemen Grafik dan Pemetaan 306, rasi yang kita bicarakan ini tidak ada di peta langit yang mereka punya. Dan saya rasa…eeerrr…rasi ini selain misterius juga aneh, Sir…” kata Garrvich ragu-ragu.

“Aneh? Maksudmu?”

“Errr…kemunculan rasi misterius ini membuat tatanan bintang menjadi tidak lazim. Sir, ini foto dan grafik kemunculan rasi misterius. Saya baru mengambilnya dari Depatemen Grafik dan Pemetaan 306” Garrvich menggelar dua lembar kertas biru gelap dengan titik-titik putih biru dan merah di atas meja kayu panjang di tengah ruangan, “Lihat ini, Sir. Scorpion tidak seharusnya berada di dekat Leo dan Libra tidak semestinya berada di bawah Sagitarius. Dan saya rasa Virgo juga tidak semestinya berada di sini” jelas Garrvich sambil menunjuk letak rasi bintang.

“Ya, kau benar, Nak. Bagaimana mungkin aku sampai tidak menyadarinya? Aku benar-benar sudah tua. Ya…ya…ini aneh sekali” si laki-laki tua menggeser kedua gambar agar lebih dekat ke arahnya.

“Dan satu lagi, Sir…”lanjut Garrvich,”…ada satu bagian dari rasi misterius ini yang tidak kelihatan pada kemunculannya kali ini”

Si laki-laki tua mengerutkan alisnya.

“Di sini, Sir. Lihat, tahun kemarin di sini ada sebuah bintang kecil,” Garrvich menyilang bagian yang kososng di lembar kedua,” sedangkan sekarang tidak kelihatan” lanjutnya.

Laki-laki tua makin mengerutkan alisnya, kemudian meneliti lebih detil gambar yang terhampar di depannya.

“Ya…aneh sekali” hanya itu yang terlontar dari mulutnya yang telah keriput. Namun, benaknya terus berputar menerka-nerka apa gerangan yang sedang terjadi.

***

Hahahaha…lucu deh hari ini, cupha hyung milad trus kita bawain kue ke tempat dia kuliah…hihihi…sebenernya pengen ngajakin semua ganjen, tapi pada ga semuanya bisa, si ganjen No.1 katanya lagi fitting baju, ganjen No.4 titip salam aja katanya, ganjen no.5 dateng telat, ganjen No.7 ngerjain laporan, ganjen No.8 pulang… tapi ga papa deuh… Saengil chukka yo hyung…!!! WUAB…

July

12

cih…!!!

heran deh kenapa ada orang kaya kamu yang pinter banget menutupi keburukan dengan kemanisan. serba salah jadinya. kalo bilang kamu baik, saya yang berasa jadi munafik, tapi kalo saya bilang kamu buruk, berasa saya yang ngejelek-jelekin kamu. saya jadi bingung harus bersikap gimana, antara salut, heran dan apa yah??? kasarnya jijik mungkin, kok bisa ya ada orang kaya kamu. ckckckck…